Sabtu, 22 Januari 2011
Kamis, 13 Januari 2011
DEPARTEMEN PERTANIAN BANTU SUBSIDI BIBIT TEH UNGGUL
Bandung, 7/11 (ANTARA) - Departemen Pertanian akan membantu subsidi bibit teh unggul untuk perkebunan dengan luas 6.000 hektare pada 2010 guna mempertahankan produktivitas teh di Indonesia.
"Bantuan bibit teh tahun 2009 ini baru untuk 1.000 hektare, sedangkan 2010 mendatang bantuan bibit teh ditingkatkan untuk 6.000 hektare," kata Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Departemen Pertanian, Rizki Muin di sela-sela pembukaan "Festival Teh 2009" di Kota Bandung, Jumat.
Menurut Rizki, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah menyediakan anggaran sebesar Rp6,5 miliar untuk pengadaan benih dan bibit teh unggul yang rencananya disebar di perkebunan teh rakyat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi dan Sumatra Barat.
Langkah tersebut juga dilakukan dalam rangka menekan angka penurunan luas perkebunan teh di Indonesia yang mencapai empat persen per tahun. Luas perkebunan teh pemerintah, swasta dan petani saat ini sekitar 120 ribu hektar.
"Dalam lima tahun terakhir ini ada kecenderungan pengurangan luar perkebunan teh rata-rata empat persen per tahun, ini cukup membahayakan bagi upaya peningkatan produktivitas teh di tanah air, sehingga kami memfasilitasi bantuan benih atau bibit teh," katanya.
Penyebab penurunan luasan perkebunan teh itu, kata Rizki karena adanya alih fungsi lahan, perambahan dengan tanam sayur, penyerobotan lahan oleh masyarakat serta pembiaran areal perkebunan akibat merugi.
Selain itu, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pupuk untuk sektor produksi teh nasional khususnya untuk perkebunan teh rakyat.
"Sebagian pengusaha perkebinan teh rakyat kesulitan pembiayaan pupuk, sehingga kita bantu separuhnya. Bila pemupukan satu hektare lahan teh membutuhkan 400 kilogram, separuhnya nanti akan dibantu dengan skema yang sudah disiapkan," katanya.
Hal tersebut, kata Rizki Muin diharapkan para petani teh kembali bergairah. Ia mengakui kesulitan petani teh saat ini masih seretnya permodalan dan sulitnya akses perbankan untuk mendapatkan modal usaha dan modal kerja.
Kendalanya, sebagian dari petani teh di Indonesia belum melakukan sertifikasi lahan mereka sehingga sulit dijadikan anggunan ke bank.
"Revitalisasi perkebunan teh di Indonesia sesuatu hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi sehingga produktivitas perkebunan teh di Indonesia bisa dipertahankan. Selain itu perkuatan pasar di dalam dan luar negeri perlu dioptimalkan," katanya.
Ia menyebutkan untuk revitalisasi perkebunan teh di Indonesia butuh anggaran sekitar Rp1,5 triliun. Hal terebut tengah dibahas dalam workshop "Revitalisasi Industri Teh Indonesia" yang digelar di Kota Bandung.
"Masih dibahas, apakah anggaran itu ditanggung pemerintah, swasta atau menghadirkan pihak ketiga sebagai pemodal. Kita masih bahas, yang jelas revitalisasi perkebunan teh di Indonesia sangat diperlukan dari sektor hulu hingga ke hilir," kata dia menambahkan.
www.antaranews.com
»» READMORE...
"Bantuan bibit teh tahun 2009 ini baru untuk 1.000 hektare, sedangkan 2010 mendatang bantuan bibit teh ditingkatkan untuk 6.000 hektare," kata Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Departemen Pertanian, Rizki Muin di sela-sela pembukaan "Festival Teh 2009" di Kota Bandung, Jumat.
Menurut Rizki, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah menyediakan anggaran sebesar Rp6,5 miliar untuk pengadaan benih dan bibit teh unggul yang rencananya disebar di perkebunan teh rakyat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi dan Sumatra Barat.
Langkah tersebut juga dilakukan dalam rangka menekan angka penurunan luas perkebunan teh di Indonesia yang mencapai empat persen per tahun. Luas perkebunan teh pemerintah, swasta dan petani saat ini sekitar 120 ribu hektar.
"Dalam lima tahun terakhir ini ada kecenderungan pengurangan luar perkebunan teh rata-rata empat persen per tahun, ini cukup membahayakan bagi upaya peningkatan produktivitas teh di tanah air, sehingga kami memfasilitasi bantuan benih atau bibit teh," katanya.
Penyebab penurunan luasan perkebunan teh itu, kata Rizki karena adanya alih fungsi lahan, perambahan dengan tanam sayur, penyerobotan lahan oleh masyarakat serta pembiaran areal perkebunan akibat merugi.
Selain itu, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pupuk untuk sektor produksi teh nasional khususnya untuk perkebunan teh rakyat.
"Sebagian pengusaha perkebinan teh rakyat kesulitan pembiayaan pupuk, sehingga kita bantu separuhnya. Bila pemupukan satu hektare lahan teh membutuhkan 400 kilogram, separuhnya nanti akan dibantu dengan skema yang sudah disiapkan," katanya.
Hal tersebut, kata Rizki Muin diharapkan para petani teh kembali bergairah. Ia mengakui kesulitan petani teh saat ini masih seretnya permodalan dan sulitnya akses perbankan untuk mendapatkan modal usaha dan modal kerja.
Kendalanya, sebagian dari petani teh di Indonesia belum melakukan sertifikasi lahan mereka sehingga sulit dijadikan anggunan ke bank.
"Revitalisasi perkebunan teh di Indonesia sesuatu hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi sehingga produktivitas perkebunan teh di Indonesia bisa dipertahankan. Selain itu perkuatan pasar di dalam dan luar negeri perlu dioptimalkan," katanya.
Ia menyebutkan untuk revitalisasi perkebunan teh di Indonesia butuh anggaran sekitar Rp1,5 triliun. Hal terebut tengah dibahas dalam workshop "Revitalisasi Industri Teh Indonesia" yang digelar di Kota Bandung.
"Masih dibahas, apakah anggaran itu ditanggung pemerintah, swasta atau menghadirkan pihak ketiga sebagai pemodal. Kita masih bahas, yang jelas revitalisasi perkebunan teh di Indonesia sangat diperlukan dari sektor hulu hingga ke hilir," kata dia menambahkan.
www.antaranews.com
Senin, 01 November 2010
BIBIT TEH
Deptan Sediakan Bantuan Bibit Teh Unggul 6000 Ha
Sabtu, 7 November 2009 04:50 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis | Dibaca 1946 kali
(ANTARA/Maha Eka Swasta)
"Bantuan bibit teh tahun 2009 ini baru sekitar 1000 hektar, sedangkan 2010 mendatang bantuan bibit teh ditingkatkan untuk 6000 hektar," kata Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Departemen Pertanian, Rizki Muin di sela-sela pembukaan "Festival Teh 2009" di Kota Bandung, Jumat.
Menurut Rizki, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah menyediakan anggaran sebesar Rp6,5 miliar untuk pengadaan benih dan bibit teh unggul yang rencananya disebar di perkebunan teh rakyat di Jawa Barat, Jateng, Jambi dan Sumatera Barat.
Langkah tersebut juga dilakukan dalam rangka menekan angka penurunan luasan perkebunan teh di Indonesia yang mencapai empat persen per tahun. Luasan perkebunan teh pemerintah, swasta dan petani saat ini sekitar 120 ribu hektar.
"Dalam lima tahun terakhir ini ada kecenderungan pengurangan luar perkebunan teh rata-rata empat persen per tahun, ini cukup membahayakan bagi upaya peningkatan produktivitas teh di tanah air, sehingga kami memfasilitasi dengan bantuan benih atau bibit teh," katanya.
Penyebab penurunan luasan perkebunan teh itu, kata Rizki karena adanya alih fungsi lahan, perambahan dengan tanam sayur, penyerobotan lahan oleh masyarakat serta pembiaran areal perkebunan akibat merugi.
Selain itu, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pupuk untuk sektor produksi teh nasional khususnya untuk perkebunan teh rakyat.
"Sebagian pengusaha perkebinan teh rakyat kesulitan pembiayaan pupuk, sehingga kita bantu separuhnya. Bila pemupukan satu hektar lahan teh 400 kilogram, separuhnya nanti akan dibantu dengan skema yang sudah disiapkan," katanya.
Hal tersebut, kata Rizki Muin diharapkan para petani teh kembali bergairah. Ia mengakui kesulitan petani teh saat ini masih seretnya permodalan dan sulitnya akses perbankan untuk mendapatkan modal usaha dan modal kerja.
Kendalanya, sebagian dari petani teh di Indonesia tidak belum melakukan sertifikasi lahan mereka sehingga sulit dijadikan anggunan ke bank.
"Revitalisasi perkebunan teh di Indonesia sesuatu hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi sehingga produktivitas perkebunan teh di Indonesia bisa dipertahankan. Selain itu perkuatan pasar di dalam dan luar negeri perlu dioptimalkan," katanya.
Ia menyebutkan untuk revitalisasi perkebunan teh di Indonesia butuh anggaran sekitar Rp1,5 triliun. Hal terebut tengah dibahas dalam workshops "Revitalisasi Industri Teh Indonesia" yang digelar di Kota Bandung.
"Masih dibahas, apakah anggaran itu ditanggung pemerintah, swasta atau menghadirkan pihak ketiga sebagai pemodal. Kita masih dibahas, yang jelas revitalisasi perkebunan teh di Indonesia sangat diperlukan dari sektor hulu hingga ke hilir," kata Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Departemen Pertanian itu menambahkan.(*)
TEH
Teh
Teh. Foto: wordpress.com
Luas areal perkebunan mencapai 109.900 hektar atau 70 persen dari luas areal perkebunan teh di Indonesia. Tiap tahun produksi teh dari provinsi ini menyumbang sekitar 80 persen terhadap produksi teh nasional.
Areal perkebunan teh tersebar di Kabupaten Bandung, Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Subang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Majalengka.
Kabupaten Bandung adalah daerah penghasil teh utama di Jabar. Sekitar 42 persen produksi teh Jabar dihasilkan di kabupaten ini. Areal tanaman teh tersebar di Kecamatan Pangalengan, Ciwidey, Cipeundeuy, Cikalong Wetan, dan Pasirjambu.
Tahukah kamu? Penanaman teh di wilayah pegunungan Bandung sudah ada sejak tahun 1863. Dulu, perkebunan itu dikembangkan oleh Keluarga Holle, Kerkhoven, dan Bosscha. Tahun 1878, luas areal perkebunan teh berkembang pesat seiring dengan datangnya bibit teh unggul dari Assam yang tumbuh baik di wilayah pegunungan itu.
Kamis, 14 Oktober 2010
PERUSAHAAN TEH HIJAU (GREEN TEA) PD NUGRAHA GIRIMUKTI

BAPAK AGUS KUSNADI
PENGUSAHA PABRIK TEH HIJAU (GREEN TEA)
PD NUGRAHA DESA GIRIMUKTI
PENGUSAHA PABRIK TEH HIJAU (GREEN TEA)
PD NUGRAHA DESA GIRIMUKTI
Desa Girimukti dengan lokasi geografis pegunungan menjanjikan beragam potensi pertanian dan perkebunan yang sangat menjanjikan. Salah satu produk unggulan dari sektor perkebunan yaitu tanaman pohon teh. Hampir 65% luas wilayah Desa Girimukti ditanami dengan pohon teh yang lebih dikenal dengan sebutan PIR (Perkebunan Inti Rakyat), yang mana hak milik dan pengelolaannya sepenuhnya oleh warga masyarakat.
Salah seorang penduduk yang memiliki jiwa wirausaha (enterpreneurship) sangat brilian dan mampu mengoptimalkan peluang dan nilai jual kondisi dan potensi Desa Girimukti melalui optimalisasi sektor perkebunan teh yaitu Bapak Agus Kusnadi. Melalui tangan dingin beliau sejak tahun 1994 di Desa Girimukti berdiri sebuah Pabrik Pengolahan Teh Hijau (Green Tea) dengan nama PD NUGRAHA. Berkat upaya, ketekunan dan kegigihan, tanpa mengenal lelah belau merintis pabrik teh tersebut yang secara langsung dapat menyerap tenaga kerja lokal. Saat ini lebih dari 10 orang pekerja yang membantu beliau mengolah bahan baku teh sampai siap dipasarkan. Berikut tayangan singkat proses pengolahan teh di PD. NUGRAHA :
urutan pengolahan teh hijau di PD Nugraha adalah sebagai berikut :
1) Pengolahan didukung dengan kualitas pucuk pilihan dari kebun teh yang terpelihara, sehingga menghasilkan kualitas peco yang baik.
2) Proses penggerak menggunakan genset elektrik dengan kapasitas daya kurang lebih 100 kvg.
3) Proses penggilingan menggunakan jakson Marzal, sehingga menghasilkan permentasi air yang baik.
4) Proses pembakaran (Sunda : Layuan) menggunakan kayu bakar dengan kualitas kayu keras basahan yang baik.
5) Proses pengeringan (finishing) menggunakan booltea dengan kapasitas panas 150 derajat sampai 200 derajat celcius sehingga menghasilkan aroma yang baik.
6) Pengolahan oleh tenaga ahli sehingga menghasilkan produk dengan kualitas yang sangat baik.
Hasil pengolahan teh dari PD. NUGRAHA kualitasnya tidak dapat diragukan lagi mengingat proses pembakaran (Sunda " Layuan) menggunakan kayu bakar berkualitas dari pohon-pohon yang keras. Kemasan dalam proses pembakaran dibuat sedemikian rupa sehingga produk yang dihasilkan mengeluarkan aroma yang sangat wangi dengan tampilan yang sangat bersih.
Saat ini produksi teh dari PD. NUGRAHA dipasarkan ke Sukabumi sebagai distributor utama PT Teh Sosro Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)

