Kamis, 14 Oktober 2010

PERUSAHAAN TEH HIJAU (GREEN TEA) PD NUGRAHA GIRIMUKTI



BAPAK AGUS KUSNADI
PENGUSAHA PABRIK TEH HIJAU (GREEN TEA)
PD NUGRAHA DESA GIRIMUKTI

Desa Girimukti dengan lokasi geografis pegunungan menjanjikan beragam potensi pertanian dan perkebunan yang sangat menjanjikan. Salah satu produk unggulan dari sektor perkebunan yaitu tanaman pohon teh. Hampir 65% luas wilayah Desa Girimukti ditanami dengan pohon teh yang lebih dikenal dengan sebutan PIR (Perkebunan Inti Rakyat), yang mana hak milik dan pengelolaannya sepenuhnya oleh warga masyarakat.

Salah seorang penduduk yang memiliki jiwa wirausaha (enterpreneurship) sangat brilian dan mampu mengoptimalkan peluang dan nilai jual kondisi dan potensi Desa Girimukti melalui optimalisasi sektor perkebunan teh yaitu Bapak Agus Kusnadi. Melalui tangan dingin beliau sejak tahun 1994 di Desa Girimukti berdiri sebuah Pabrik Pengolahan Teh Hijau (Green Tea) dengan nama PD NUGRAHA. Berkat upaya, ketekunan dan kegigihan, tanpa mengenal lelah belau merintis pabrik teh tersebut yang secara langsung dapat menyerap tenaga kerja lokal. Saat ini lebih dari 10 orang pekerja yang membantu beliau mengolah bahan baku teh sampai siap dipasarkan. Berikut tayangan singkat proses pengolahan teh di PD. NUGRAHA :

 urutan pengolahan teh hijau di PD Nugraha adalah sebagai berikut :
1) Pengolahan didukung dengan kualitas pucuk pilihan dari kebun teh yang terpelihara, sehingga menghasilkan kualitas peco yang baik.
2) Proses penggerak menggunakan genset elektrik dengan kapasitas daya kurang lebih 100 kvg.
3) Proses penggilingan menggunakan jakson Marzal, sehingga menghasilkan permentasi air yang baik.
4) Proses pembakaran (Sunda : Layuan) menggunakan kayu bakar dengan kualitas kayu keras basahan yang baik.
5) Proses pengeringan (finishing) menggunakan booltea dengan kapasitas panas 150 derajat sampai 200 derajat celcius sehingga menghasilkan aroma yang baik.
6) Pengolahan oleh tenaga ahli sehingga menghasilkan produk dengan kualitas yang sangat baik.

Hasil pengolahan teh dari PD. NUGRAHA kualitasnya tidak dapat diragukan lagi mengingat proses pembakaran (Sunda " Layuan) menggunakan kayu bakar berkualitas dari pohon-pohon yang keras. Kemasan dalam proses pembakaran dibuat sedemikian rupa sehingga produk yang dihasilkan mengeluarkan aroma yang sangat wangi dengan tampilan yang sangat bersih.

Saat ini produksi teh dari PD. NUGRAHA dipasarkan ke Sukabumi sebagai distributor utama PT Teh Sosro Indonesia.

»»  READMORE...

Gunung Cikuray

Gunung Cikuray
Gunung Cikuray merupakan gunung tertinggi di Garut. Tingginya tercatat 2.821 meter dari permukaan laut. Karena ketinggiannya itulah, gunung ini sangat mudah dikenali dan dilihat dari berbagai arah. Letaknya berada di selatan Kota Garut, tepatnya di antara wilayah Cilawu dan Cikajang. Selain dikenal ketinggiannya, gunung ini juga menjadi simbol kekayaan alam Garut.
Menurut para ahli sejarah, Gunung Cikuray awalnya bernama Srimanganti. Di lereng gunung ini pada zaman dulu terdapat mandala (pemukiman para pendeta), yang menjadi tujuan untuk menuntut dan mengaji bermacam-macam ilmu. Mandala ini diberi nama Gunung Larang Srimanganti. Di tempat inilah tradisi kerajaan Sunda dalam bidang tulis-menulis berlangsung sampai abad ke-17. Banyak naskah Sunda kuno yang ditulis saat itu dan menjadi obyek penelitian para ahli sejarah hingga kini. Naskah-naskah itu saat ini tersimpan di Kabuyutan Ciburuy, Cigedug, Garut.
Selain itu, sejak abad ke-19 lereng Cikuray mulai dibuka untuk lahan perkebunan teh. Salah satu perkebunan teh yang terkenal saat itu adalah Perkebunan Waspada, yang berada di sekitar wilayah Cikajang. Perkebunan ini dikelola oleh Karel Frederik Holle (K.F. Holle) yang dikenal juga sebagai penasihat pemerintah kolonial Belinda untuk urusan masya¬rakat pribumi. Waspada menjadi terkenal karena Holle menjadikan perkebunan ini sebagai tempat bereksperii-nen yang menggabungkan bisnis dan idealisms kebudayaan dengan tujuan memberdayakan masyarakat pribumi. Mika lahirlah dari tempat ini berbagai inovasi di biding kebudayaan dan pertanian, di antaranya pembudidayaan ikan air tawar, peternakan domba, dan sistem sengked untuk lahan pertanian.
Sampai saat ini pun panorama clam Gunung Cikuray banyak diminati wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak di antara mereka yang dating ke Cikuray tergoda untuk mendaki gunung sambil melihat pemandangan di sekitarnya yang indah. Walaupun gunung ini tidak memiliki kawah seperti Gunung Guntur atau Papapandayan, tetapi panorama alamnya tidak kalah menarik dari gunung lain di gunung sekitarnya.
Jika kita berada di puncaknya, akan nampak hamparan panorama yang menakjubkan. Di sebelah selatan akan tampak birunya Samudra Indonesia. Sementara di sebelah utara akan tampak hamparan Kota Garut. Malah kalau cuaca sedang baik, puncak-puncak gunung yang jauh pun bisa kelihatan. Selain itu para pendaki juga bisa melihat pemancar relay televisi yang dibangun di lereng Gunung Cikuray. Untuk bisa naik ke Gunung Cikuray ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama melalui perkebunan Dayeuh Manggung yang bisa ditempuh dari jalan raga Garut – Singaparna, Tasikmalaya. Yang kedua bisa ditempuh dari perkebunan Giriawas, Cikajang.
»»  READMORE...

Sejarah Teh di Indonesia


Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta.

Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champuys di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat.

Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.


Pada tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stelsel ).
»»  READMORE...

Manfaat Teh


Teh Hijau ( Green Tea )
Teh hijau adalah jenis teh yang juga tidak mengalami proses fermentasi akan tetapi mengalami proses pengeringan dan penguapan daun yang sedikit lebih lama dibandingkan teh putih.

Semua jenis teh mengandung katekin, akan tetapi saat ini teh hijau lebih populer karena kandungan katekinya lebih tinggi dibandingkan dengan teh hitam. Sehingga teh hijau lebih dikenal sebagai jenis teh yang dapat mencegah pertumbuhan penyakit kanker

Manfaat lain dari teh hijau adalah untuk mencegah dan menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), resiko terkena stroke dan menghaluskan kulit.
»»  READMORE...

Nama latin dari TEH adalah Camelia Sinensis (keluarga Camelia)


Nama latin dari TEH adalah Camelia Sinensis (keluarga Camelia)

Pada umumnya, teh tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian antara 200-2000 meter diatas permukaan laut. Suhu cuaca antara 14-25 derajat celsius. Ketinggian tanaman dapat mencapai hingga 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, ada yang berkisar antara 12-20 meter tingginya untuk tanaman Teh jenis Assamica.

Hingga saat ini, di seluruh dunia terdapat sekitar terdapat 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara.

Untuk mempermudah pemetikan daun-daun teh, maka pohon teh selalu dijaga pertumbuhannya, dengan cara selalu dipangkas sehingga ketinggannya tidak lebih dari 1 meter.

Dengan ketinggian ini, maka sangatlah mudah untuk memetik pucuk-pucuk daun muda yang baik.

undefined
»»  READMORE...

Rendah, Apresiasi Konsumen terhadap Teh

Rendah, Apresiasi Konsumen terhadap Teh
Apresiasi konsumen Indonesia terhadap teh sebagai minuman, relatif masih rendah. Hal itu disebabkan keterbatasan informasi keragaman jenis dan kualitas teh, serta manfaat minum teh bagi kesehatan. Faktor lain rendahnya apresiasi terhadap teh, para pengolah teh kurang peduli terhadap kualitas dan teknik penyajian untuk mengisi pasar dalam negeri.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jabar, H. Herdiwan, upaya mengatasi rendahnya apresiasi konsumen Indonesia terhadap teh, memerlukan langkah-langkah untuk meningkatkan konsumsi per kapita. Salah satu di antaranya, dapat dilakukan dengan promosi dan sosialisasi manfaat teh bagi kesehatan tubuh dengan lebih intensif.
"Festival teh merupakan satu bentuk kegiatan promosi teh yang sangat efektif. Festival ini akan diikuti seluruh stake holders dan instansi yang erat keterkaitannya dengan pengembangan agribisnis teh di Indonesia," katanya, Senin (27/8).
Menurut Herdiwan, menyadari pentingnya kegiatan festival teh, Pemprov. Jabar melalui Dinas Perkebunan Jabar memfasilitasi para pelaku agribisnis dan pemerhati teh menyelenggarakan Festival Teh 2007. Sedangkan pelaksanaannya, Jumat (31/8) - Minggu (2/9). Pembukaan pameran direncanakan Sabtu (1/9), oleh Gubernur Jabar.
Kegiatan strategis
Dalam festival itu akan disajikan pameran aneka produk teh (On Farm - Off Farm), penjualan aneka produk dan penunjang minum teh, serta agrowisata perkebunan. Selain itu, juga ditunjang berbagai kegiatan seperti talk show manfaat minum teh bagi kesehatan, fungsi dan peran perkebunan teh dalam menjaga kelestarian lingkungan, serta inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi industri teh.
Herdiwan menilai, Festival Teh 2007 merupakan kegiatan strategis untuk meningkatkan apresiasi masyarakat tentang teh dan citra teh sebagai minuman bergengsi dan menyehatkan tubuh. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dalam festival adalah meningkatkan persepsi masyarakat peminum teh agar tidak memandang teh sebagai minuman inferior, akan tetapi minuman yang mempunyai daya saing dengan minuman lainnya.
"Sasaran lainnya, adanya transaksi langsung, bertemu pembeli, serta membuat kontak bisnis dan membuka peluang investasi di bidang pertehan," katanya. (B.75)***
sumber :  http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/082007/28/0210.htm
»»  READMORE...

Di Mana Perkebunan Teh Terbesar di Jawa Barat?

Di Mana Perkebunan Teh Terbesar di Jawa Barat?
Perkebunan teh di Jawa Barat merupakan yang terbesar di Indonesia. Luas areal perkebunan mencapai 109.900 hektar atau 70 persen dari luas areal perkebunan teh di Indonesia. Tiap tahun produksi teh dari provinsi ini menyumbang sekitar 80 persen terhadap produksi teh nasional.
Areal perkebunan teh tersebar di Kabupaten Bandung, Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Subang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Majalengka. Kabupaten Bandung adalah daerah penghasil teh utama di Jabar. Sekitar 42 persen produksi teh Jabar dihasilkan di kabupaten ini. Areal tanaman teh tersebar di Kecamatan Pangalengan, Ciwidey, Cipeundeuy, Cikalong Wetan, dan Pasirjambu.
Besarnya kontribusi teh kabupaten ini tak terlepas dari penanaman teh yang berkembang di wilayah pegunungan Bandung sejak tahun 1863.
Perkebunan itu dikembangkan oleh keluarga Holle, Kerkhoven, dan Bosscha. Tahun 1878, luas areal perkebunan teh berkembang pesat seiring dengan datangnya bibit teh unggul dari Assam yang tumbuh baik di wilayah pegunungan itu.
Bibit unggul itu dikembangkan oleh Andrian Walraven Holle, Albert Holle, dan Eduard Julius Kerkhoven di perkebunan Parakan Salak dan Sinagar. Rudolf Eduard Kerkhoven mengembangkannya di Perkebunan Arjasari dan Gambung (di selatan Ciwidey). Adapun KAR Bosscha menanamnya di Perkebunan Malabar, Pangalengan.
Kerja keras lima tokoh tersebut dalam membudidayakan teh mengantarkan produksi perkebunan itu menjadi komoditas yang menguntungkan. Awal abad ke-20, kualitas teh dari Jabar diakui dunia sebagi teh bermutu tinggi.
Tahun 1930, di Pulau Jawa terdapat 289 perkebunan teh, sebanyak 249 atau 87 persen di antaranya terdapat di Tatar Sunda. Hingga kini perkebunan teh tersebut masih berproduksi dan sebagian besar dikelola oleh PTP Nusantara VIII. (ERI/LITBANG KOMPAS)
»»  READMORE...